Oleh: abusyafiq | September 15, 2008

Garut kota Leluhur

By Wahyu Raksaguna

As Wr Wb

Artikel ini sengaja disajikan dengan maksud agar “sadulur mitra jaya” terutama generasi mudanya yang lahir di tahun 80-an, 90-an lebih mengenal kota Garut sebagai kota tempat leluhurnya dilahirkan.
Bagi yang dapat menambahkan sejarah kota Garut, asal usul dan lain-lain, mohon ditambahkan !

GARUT

Salah satu kabupaten di wilayah Priangan yang daerahnya berbatasan dengan kabupaten Bandung di sebelah barat, Samudra Hindia atau Laut Kidul disebelah selatan, Kabupaten Tasikmalaya di sebelah timur, dan Kabupaten Sumedang di sebelah utara. Letak ibu kota sekitar 60 km dari kota Bandung. Dulu kabupaten ini bernama dan beribukota Limbangan.

Pergantian namanya terjadi tahun 1913 dan perpindahan ibukotanya ke arah selatan terjadi tahun 1913. Luas wilayahnya pun mengalami perubahan menjadi lebih luas, karena meliputi daerah inti kabupaten dahulu (Cisewu, Bungbulang, Cikelet, Pameungpeuk) di selatan. Jika dilihat asal usulnya daerah kabupaten ini berasal dari lima kabupaten, yaitu kabupaten dahulu (Balubur Limbangan, Wanakerta atau Cibatu sekarang, Wanaraja, Suci, dan Panembong atau Bayongbong sekarang), Kabupaten Sukapura atau TASIKMALAYA sekarang (Batuwangi atau Cikajang sekarang), Kabupaten Parakanmuncang (Cikembulan atau Leles sekarang dan Timbangannten atau Tarogong sekarang), Kabupaten Sumedang (Malangbong), dan Kabupaten Cianjur (Cisewu).

Perpindahan Kabupaten terjadi pada masa pemerintahan Bupati R.A. Adiwijaya (1813-1831) dan penggantian nama Kabupaten terjadi pada masa pemerintahan Bupati R.A Wiratanudatar VIII (1871-1915). Hampir semua daerah merupakan pegunungan dan dataran tinggi (rata-rata antara 700-750 m di atas permukaan laut), bahkan ada gunung –gunungnya yang masih berapi (Guntur,Cikuray, Talaga Bodas dan Galunggung).
Karena itu tanahnya subur, baik untuk ditanamai beberapa jenis tumbuhan ekonomis , seperti nila, kopi, teh, karet, tembakau, kentang, labu siam, jeruk, padi.

Bekat pembaharuan system pertanian yang dipelopori oleh H.Muhammad Musa dan K.F Holle pada paro kedua abad ke-19, daerah ini lebih maju dan terkenal dalam bidang pertanian dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Priangan. Labu siam, domba, jeruk, dan ikan mas , merupakan hasil penemuan dan rekayasa yang sukses masyaraat daerah ini dibawah kepeloporan dua tokoh tersebut. Karena banyaknya produksi pertanian untuk keperluan ekspor (kopi, teh , karet, tembakau), maka di daerah ini dibangun jalur khusus kerea api yang menghubungkan kota Garut sampai Ciurupan (Cikajang) dengan kota pelabuhan melaui jalur kereta api Batawi, Bandung, Semarang, Surabaya bahkan dibangun pelabuhan kecil Pameungpeuk di pantai Laut Kidul. Pada tahun 1997 luas wilayah kabupaten ini 306.715 ha, berpenduduk 1.926.335 jiwa.

Sumber : ENSIKLOPEDI SUNDA


Responses

  1. Kolom ini akan kita coba mengangkat berbagai kisah , cerita, legenda yang berkaitan dengan Kota Garut.
    Bagi para wargi sesepuh atanapi wargi anu minat kana sastra, diantos pisan tulisan.
    Tulisan bisa karya sendiri, saduran , terjemahan.
    Mangga Kang Uay di Lembang, Kang Didin di Garut, tatanggi di Batu Ulung Bogor, Ayi Toto di Cirebon. sok lah ramekeun…

    BABAD TIMBANGANTEUN

    WAWACAN, Yang diterbitkan berdasarkan naskah dengan kode PLT.37 yang disimpan di Musieum Nasioanal (Sekarang Perpustakaan Nasional) dan ditulis dalam hurup Latin(Jakarta 1982). Tentng Ratu Pasehan dari Timbanganteun yang karena tidak mempunyai putra , meminta kepada Prabu Siliwangi calon penggantinya sebagai raja Timbanganteun . Tapi Prabu Siliwangi mengirimkan Sunan Burung Baok, anakya dari putri jin yang berperangai buruk , sehingga menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat
    Timbul salah paham pada Prabu Siliwangi , lantaran Ratu Pasehan menghukum Sunan Burung Baok. Tapi akhirnya diangkatlah Raden Sunan Punggung, putra Prabu Siliwangi dari Maraja Inten Dewata, adik dalem Pasehan yang menjadi permaisurinya.

    Kisah yang hidup sebagai legenda di daerah Garut ini , pernah disadur dalam bnetk GENDING KARESMEN Oleh WAHYU WIBISANA (bukan Wahyu Raksaguna heeee)
    Dengan judul Raden Inten Dewata dan dipentaskan di Garut (1964 ; saat itu simkuring baru Lahir).
    Dalam koleksi naskah Museum Pusat terdapat naskah Plt 42 yang menguraikan silsilah para bupati Bandung yang juga mengisahkan Ratu Pasehan .

    Kita akan gali terus cerita/berita atau apa pun yang berkaitan dengan kota leluhur kita

    Babad Timbanganteun ini di sadur dari ENSIKLOPEDI SUNDA (PUSTAKA JAYA; CETAKAN PERTAMA 2000)

  2. Garut, Menyimpan Belerang dan Sejarah Wisata

    Sinar Harapan, 11 November 2004

    GARUT – Kota Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

    ”Itu Gunung Gede, masih aktif dan dulu sempat meletus,” ujar seorang pemandu, saat pertama kali tiba dan melintas kabupaten ini. Baru selepas siang dan sore menjelang, kami langsung menikmati dinginnya udara di sekitar. Pegunungan yang mulai menghilang dibungkus senja, dan malam yang sudah menyuguhkan udara sejuk.

    Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.

    Ada juga hotel lain yang berada di luar kota Garut termasuk Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Semarang dan Hotel Cilaut Eureun di Pamengpeuk. Semua hotel itu (termasuk hotel milik Holke van Garut), sayangnya telah hilang, rata dengan tanah atau berubah fungsi dan wujudnya.

    Sempat juga kami menjalani jalur ”hanya” di sepanjang kaki Gunung Papandayan itu. Tanaman, tanah dan bebatuan di kaki gunung ini sebenarnya diharapkan untuk dipertahankan –beberapa tempat sempat dijadikan penggalian pasir– sebaiknya bisa dihentikan.

    Situs Sejarah

    Nama Garut sendiri mulanya cukup unik. Di awal tahun 1813, Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, memerintahkan untuk mencari tempat yang cocok sebagai ibu kota kabupaten. Akhirnya, ditemukanlah sebuah tempat yang cocok, berupa tanah datar, subur, lengkap dengan mata air yang terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Berkah alam ini ditambah pula dengan pemandangan yang indah dari gunung-gunung di sekitarnya, yaitu Cikuray, Papandayan, Guntur, Talaga Bodas dan Karacak. Konon, pada masa pemerintahan bupati itulah tempat ini mulai diberi sebutan ”Garut”.

    Sejak awal abad ke-19, Garut memang heterogen dengan masyarakat yang berusaha di perkebunan, bahkan sebagai tempat wisata sejak masa kolonial Belanda. Usaha perkebunan yang terletak di sekitar Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat ketika itu telah dikelola oleh swasta Belanda. Baru pada tahun 1900-1928 diikuti dengan perkebunan karet, teh, kini di daerah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet dan Pameungpeuk.

    Dulu, di Garut, ada juga situs candi bernama Candi Cangkuang (konon didirikan pada abad ke-7, pada masa peradaban Hindu-Jawa) yang sebenarnya sudah cukup tua – bahkan konon lebih tua dari candi Prambanan – yang kemudian sayangnya sempat dihancurkan saat sejarah pergolakan ideologi di tahun 1950-an. Sayang sekali, pandangan dan ideologi yang sempit telah menghancurkan tatanan dan peradaban budaya yang begitu dikenal di masa lampau.

    Karena pesona itu, beberapa tokoh dunia termasuk Charlie Chaplin, Ratu Beatrix dan keluarga dari Ratu Wilhelmina pernah datang ke wilayah ini. Sejarah hotel yang akhirnya dibumihanguskan sekitar tahun 1949 itu diinformasikan oleh Bupati Garut (ketika itu Momong Kertasasmita yang mengetahui dokumennya dari cucu Holke van Garut).

    Tempat untuk wisata lainnya yang juga menarik dari Garut adalah Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Cangkuang, pemandian air panas, Cipanas Bagendit, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan Pantai Pameungpeuk.

    Sumber Alam

    ”Ikannya dapat, ikannya dapat,” suara seorang bocah terdengar histeris saat tali pancingnya ditarik oleh ikan dari air kolam dengan kandungan Manesium Sulfat, unsur yang menyegarkan otot lelah dan tegang. Si bocah tadi, ditemani kakaknya, adalah anak dari salah satu tamu yang datang menginap di ”Kampung Sumber Alam” nama areal hunian berupa bungalow dilengkapi dengan restoran, ruang rapat, kolam renang, juga spa yang terletak di wilayah Garut.

    Kolam memang tak terpisahkan dari seluruh bungalow yang ada di resor ini. Rumah yang dibangun dan dirancang seperti rumah panggung namun terbuat dari tembok dengan kolam-kolam yang ada di bawahnya, membuat posisi rumah praktis memang berada tepat di tengah air.

    ”Tiap penghuni bisa memancing ikan yang ada di sini sepuasnya dan bisa meminta kepada kami untuk langsung menggorengnya. Hampir tiap minggu kami akan menambahkan ikan-ikan ini sehingga tak akan habis,” ujar Yudi Feriska yang menjadi juga menjabat sebagai Manajer Personalia.

    Ikan-ikan yang berenang bisa dilihat dari beranda tiap bungalow yang ada. Selain ikan, kolam ditata dengan tanaman air dan teratai sehingga tetap asri. Airnya pun bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air Gunung Gede ini mengandung larutan belerang yang alami. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada penginapan yang berada di wilayah Garut ini.

    Potensi alami yang ada di lingkungan sekeliling yang asri dan sejuk ini dipertahankan. Bentuk bangunan diusahakan tidak direkayasa dan mengambil filosofi bangunan Sunda yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Garut.

    Kampung Sumber Alam, yang dimiliki oleh Rahmat Syukur Maskawan ini selain terdiri dari bungalow juga memiliki fasilitas lain seperti ruang rapat, restoran, kolam renang dan Spa. Kampung Sumber Alam, memiliki fasilitas 40 buah kamar dengan ruang pertemuan Inten Dewata dan Gambir Wangi, Restoran Tanjung Balebat, Kolam Renang air panas alam Tasikmadu, Warung Kopi dan Kamar Rendam Sipatahunan.

    Konon, bila air panas semata memang harus dibatasi hingga 15 menit, maka air alam dari Cipanas ini tetap bisa berlama-lama. Karena kualitas air dari Cipanas mengandung sulfur, memang sangat baik untuk para pendatang. Bangunan Kampung Sumber Alam memang menjadikan batang pohon kelapa sebagai tiang utama di setiap bangunan dengan unsur ijuk dan rumbia diharapkan dapat mengusir dingin buat penghuninya.

    Berbagai wilayah dalam areal Kampung Sumber Alam ini pun menggunakan prinsip itu, antara lain: wilayah Tegal Pangulinan (tempat main anak-anak termasuk juga permainan tradisi ”anak kampung” antara lain bermain Gatrik, Nangkap Belut, Main Dampu dan permainan tradisi lainnya), Tepas Panampian, di mana ada lesung dan kentongan, pengairan dan jembatan bambu, juga Seke Jajar dan Balong Gede.

    Di luar bungalow ini, yang akan didapat dari kekhasan makanan yang dihasilkan oleh penduduk Garut di masa sekarang adalah Dodol atau pun Jeruk Garut. Sedangkan kerajinan tangan penduduknya termasuk Batik Garutan, Sutera Alam, AkarWangi, juga kerajinan kulit dengan bermacam pengolahan dengan harga yang memang tak seberapa mahal. (SH/sihar ramses simatupang

  3. Misteri Petilasan Prabu Siliwangi

    Bagi masyarakat Sunda, nama Siliwangi menjadi makna tersendiri.

    Dia adalah Raja Pajajaran yang paling tersohor, pandai menyejahterakan rakyat, berlaku adil, dan bijaksana.

    Hampir di semua tempat di Jawa Barat pasti ada petilasannya dan semuanya menjadi tempat ziarah bahkan untuk bertapa.

    “COBA kau pegang ujung kayu kaboa di sebelahmu, anakku, dan aku akan pegang ujung yang satunya,” ujar Prabu Siliwangi di hutan Sancang Garut Selatan manakala kembali terkejar Kean Santang, putranya sendiri.

    Syahdan menurut ceritra lisan, Prabu Siliwangi selalu dikejar-kejar oleh Kean Santang sebab dipaksa masuk Islam. Prabu Siliwangi yang Raja Pajajaran tak mematuhi imbauan anaknya ini.

    “Aku memberi kebebasan bagi siapa pun untuk memilih agama. Yang aku cemaskan adalah keserakahan orang. Setelah memilih yang satu, lantas ganti lagi memilih yang baru, begitu seterusnya. Sementara bagi seorang raja, keyakinan itu sebuah kehormatan dan tak bisa sesepele itu digonta-ganti seperti orang membalikkan telapak tangan,” demikian jawaban Prabu Siliwangi sebagai penolakan akan ajakan putranya untuk berganti agama.

    Maka, saling memegang ujung ranting kayu kaboa sudah merupakan simbul bahwa dua ujung itu tak akan pernah bertemu. Sesudah Sang Prabu selesai berbicara, wujudnya menghilang seketika dan orang Sunda mengatakannya sebagai ngahiang.

    Sesudah Sang Prabu menghilang, di hutan Sancang tiba-tiba bermunculan sekumpulan harimau putih (orang Sunda mengatakannya maung lodaya). Maka, secara mistis masyarakat Sunda mengatakan bahwa harimau putih itu adalah penjelmaan dari Sang Prabu Siliwangi bersama para pengikut setianya.

    Sampai abad ke-21 ini, kepercayaan tersebut tetap dipegang teguh. Masyarakat Pameungpeuk, yaitu sebuah kota kecamatan di tepi perbatasan hutan Sancang, kerap terdengar orang melakukan “pertikahan” dengan “warga” Hutan Sancang. Dengan kata lain, banyak manusia kawin dengan harimau. Banyak orang tua di Garut Selatan yang “bisa” menikahkan manusia dengan harimau.

    “Akan tetapi, itu adalah harimau jadi-jadian. Bila penduduk menikah dengan mereka, yang dilihat adalah pria ganteng atau perempuan cantik,” tutur Tedi (40) penduduk di sana. Tak ada yang merasa malu dan tak perlu dirahasiakan sebab membentuk ikatan “keluarga” dengan makhluk hutan Sancang sudah merupakan kebanggaan. “Banyak orang Garut Selatan mengakui bahwa mereka keturunan harimau Pajajaran,” tutur Tedi lagi sambil senyum.

    Petilasan

    Barangkali karena terus dikejar dan diburu untuk dipaksa masuk Islam, sampai dengan hari-hari belakangan ini, orang Sunda percaya akan beberapa tempat yang disebut sebagai petilasan Prabu Siliwangi. Di Hutan Sancang, jelas akan banyak petilasan Sang Prabu, contohnya Curug Kajayaan dan Karanggajah.

    Maka, bila diurut dari “perjalanan” kejar-mengejar antara ayah dan anak itu, petilasan akan didapat dimulai dari wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur yang merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Pajajaran (dekat dengan ibu kota Negeri Pajajaran, yaitu Kota Pakuan atau Bogor sekarang).

    Di puncak Gunung Gede/Pangrango, ada petilasan Prabu Siliwangi. Begitu pun di puncak dan lereng Gunung Salak. Bahkan beberapa bulan lalu, dikabarkan ada masyarakat Hindu Bali membangun Kuil Prabu Siliwangi, dengan alasan, di lereng Gunung Salak tempat kini dibangun kuil, merupakan tempat suci Prabu Siliwangi. Orang Bali merasa perlu menghormati Prabu Siliwangi, sebab Beliau katanya merupakan raja pertama yang menyebarkan Hindu di Jawa Barat.

    Di Sukabumi Selatan ada gua bernama Kutamaneuh. Dipercaya penduduk setempat sebagai tempat ngahiang Prabu Siliwangi. Mereka tak banyak cekcok dengan orang Garut Selatan, sebab orang Garut kan mengklaim bahwa Prabu Siliwangi ngahiang di Hutan Sancang, bukan di mana-mana.

    Yang paling mendekati sejarah yang disusun para ahli, petilasan Prabu Siliwangi ada di Bukit Badigul Rancamaya. Bahkan menurut ahli sejarah, Prabu Siliwangi tidak ngahiang tetapi mati biasa karena tua dan jasadnya dimakamkan di Bukit Badigul Rancamaya Bogor. Lalu 12 tahun kemudian diperabukan. Sampai dengan hari ini, ke Bukit Badigul masih ada yang berziarah, kendati mesti memasuki kawasan real estate Rancamaya Resort.

    Di wilayah Kabupaten Bandung juga didapat petilasan Prabu Siliwangi, misalnya di Gunung Padang dan di Kawah Cibuni. Tiap hari-hari tertentu, banyak orang datang untuk bertapa. Demikian pula di wilayah Kabupaten Kuningan. Di objek wisata Cibulan misalnya, ada tempat bertapa sebab di sana ada batu keramat bekas Prabu Siliwangi duduk melepas lelah.

    Begitu lekatnya nama Prabu Siliwangi di hati masyarakat Sunda sehingga bila orang berkata Pajajaran, mesti dikaitkan dengan nama Siliwangi. Padahal, Prabu Siliwangi hanyalah salah satu dari beberapa orang tokoh yang pernah menjadi raja di Pajajaran. (Aan Merdeka Permana/”Galura”)***

  4. satu keuntungan bagi orang garut yang sedang menimba ilmu di kota besar, mudah mudahan setelah selesai bisa merubah tatanan yang ada di garut bukan hanya memikul malu, garut tidak ada yang mimpin dan selalu ribut dengan kata – kata KORUPSI dan itu jangan ada kata ulangi, saya sebagai orang garut juga, rasa malu ada walau tidak merasakan tapi sama dengan memikul tanggung jawab, yang jelas bgm meneruskan cita -cita orang garut yang harus maju

  5. Satujuuuu pisan Kang Iman kuring mah lah……..kalau Garut masih dipimpin oleh orang-orang yang bukan ahlinya ya begini. tunggu sajah tanggal mainnya nanti baris datang orang garut pituin yang akan mimpin Garut ka arah yang lebih baik : GEMAH RIPAH LOH JINAWI (orangnya masih off the record)

  6. to Iman Wachyu

    Ayi/akang Iman linggih dimana ?
    Nuju ngumbara/sakola/kuliah dimana ?
    Hatur nuhun tos kersa gabung sareung blog kaluarga Aki Jaya Kadungora Garut.

    Perkawis kayaan birokrasi kota Garut nu carut marut, geus jadi kawajiban urang sadaya warga masyarakat utamina generasi muda nyingsingkeun lengan baju.
    Kaayaan sapertos ieu teh aya dimana-dimana, pangemut abdimah ieuteh hasil sistem pendidikan
    anu kirang merhatoskeun nilai-nilai anu digeugeuh ku karuhun.

  7. Tambihan ieu tulisan anu ngenaan jeung Gegeden / menak jaman baheula.
    saripati dina ieu tulisan teh,ngagambarkan peodaliseme dina pemerintahan jaman baheula :
    dicatut tina wikisource :
    Tembang Lagu Garut Génjlong
    From Wikisource
    Jump to: navigation, search

    <Author:Moh. Sanoesi

    H. Hasan jeung Garut

    Sasambatna rahajat

    ASMARANDANA

    Ya Allah Rabul Alamin, mana nyiksa téh pohara, abong enya ka nu héngkér, nu kuat aya di ménak, ménak nu teu rumasa, saperti ménak di Garut, komo deui jadugna mah.

    Teu rumasa jadi hurip, hurip ku lantaran somah, si ménak moal maké pet, lamunna euweuh somahan, somahan nu maraban, tapina jongjon adigung, gedé hulu kamagungan.

    Dalem Garut dipiijid, henteu pisan dihargaan, sabab rayat pada réhé, pada nyebut teu uyahan, sebel bae nu aja, beda reujeung “Dalem Marhum”, rayat kabéh pada nyaah.

    Mangga geura ieu galih, omongan rayat nu loba, dalem dilandi “Si Cadok”, lalandian beunang nyutat, nyutat ti surat kabar, “Nieuws van den Dag” nu ka mashur, kamashurkeun musuh urang.

    Tapi barang pék diintip, cocog pisan éta kecap, mémang rayat Garut kabéh, kolot budak bujang lanjang, béak peuting bray beurang, taya deui nu dicatur, ngan dalem nu “Cadok” téa.

    Jadi biwir lain asih, tapi nu enya mah cua, isin mah jauh katangéh, najan leumpangna ngagégag, diiring ku kang upas, cara Raja jaman buhun, jaman rayat diseuseupan.

    Na mana kacida teuing, dodoja rayat ayeuna, Garut meunang dalem “Réhé”, dalem teu manjing jeung jaman, jaman kamanusaan, nu kitu kudu ditundung, diusir ku nu kawasa.

    Pamaréntah tangtu ngarti, yén nagara moal harja, lamun dalemna direheng, direheng ku rahayatna, cara Garut contona, dalem teu dianggap ratu, tapi “Satru Kabuyutan”.

    Pangadilan mangka éling, anjeun nu boga tanggungan, anjeun ulah rék ngadago, ngadagoan rayat nékad, nékad sabab jéngkélna, péndék rayat teu panuju, mun di ahir leuwih susah.

    Geuwat urus mangka lantip, tatapi omat-omatan, ngurus ulah jeug porongos, ulah rék ngarah sieunna, somah jadi bingungna, papariksaan nu kitu, geus tangtu palsu jadina.

    Reujeung ulah arék nilik, nilik darajatna jalma, teu paduli dalem ogé, lamun cicing dina salah, misti meunang hukuman, leungeun ranté suku ringkus, peclengkeun ti nagarana.

    Sab lamun éta bupati, tetep boga kasalahan, tatapi henteu diranté, tangtu adil moal aya, rayat moal percaya, moal nganggap ka pangagung, sab disangka ngalicikan.

    Poma ulah salah ngarti, kuring teu netepkeun salah, tapina ngan lamun baé, lamun dalem mémang jahat, mun dalem mémang salah, dalem Garut kudu hukum, ku hakim anu sampurna.

    Tangtu rayat suka ati, nu salah meunang hukuman, tangtu rayat senang haté, nenjo pamaréntah waras, nénjo ménak teu sasar, tangtu rayat moal bingung, dimana karerepetan.

    Lamun pék dipikir-pikir, goyangna Garut ayeuna, éstu matak moal poho, manan poho anggur tambah, tambah anu ngagugah, ngagugah ka urang Garut, néangan nu jadi asal.

    Asalna keur dipulitik, ku pulisi jeung ku urang, jadi urang tunda baé, nunggu kumaha putusna, tatapi ayeuna mah, palikiran ku sa-Garut, naon sabab dalem galak.

    Béda jeung séjén bupati, béda rupa séjén adat, éstu jalma matak bengong, cara nénjo sato anyar, hookeun anu aya, hookeun lain ku alus, tapi éstu matak gila.

    Tabéat ieu bupati, mun ku urang dipikiran, urang kudu henteu kagét, lamun ngingetkeun turunan, turunan ti ramana, patih Sukabumi marhum, kabéh rayat pada terang.

    Sadérékna hiji deui, patih anu geus dibuang, dibui lantaran cékcok, nya nepi ka ditangkepna, trus dibui ka Jogja, aduh éstu matak bingung, dalem Garut gedé bagja.

    Sakapeung sok nanya diri, naon nu jadi sababna, saperti jalma nu daék, daék nulungan bangsana, bangsa nu kasusahan, cara nu jadi panungtun, panungtun tina kumpulan.

    Ku nagri dipikaijid, ku pulisi dimusuhan, masing teu Édan teu Maok, nyakitu nu jadi anak, terus dianggap bahya, dulur-dulurna pon kitu, diaranggap jalma jahat.

    Nyata jaman téh tibalik, mun urang mikir ka dinya, siga pamaréntah poho, keur waktu ngabisluitan, ngangkat dalem ayeuna, dalem Garut nu kamashur, kawentar dipikangéwa.

    Lamun ninggang di si leutik, saperti bangsa somahan, maling duit sapésér gé, duit masjid upamana, nepi ka dibuina, dulur-dulurna geus tangtu, milu apes salawasna.

    Apes sotéh ku pulisi, kusabab dina pikirna, lamun adina geus maok, lanceukna kudu dijaga, bubuhan sapancuran, ujah teu téés ka luhur, biasana gé ka handap.

    Ditulung mah komo deui, dijungjung dibéré pangkat, enggeus tangtu ménak génjlong, pada nyarebutkeun salah, mo enya dulur bangsat, diangkat jadi pangagung, nu kudu ngariksa rajat.

    Geus tangtu goréng di ahir, nagri moal jadi aman, rahayat jadi parépéh, para ménak meunang susah, nguruskeun kakusutan, sab éta kuring panuhun, Garut meunang dalem anyar.

    Tapina poma téh teuing, ulah arék digantian, digantian ku nu réhé, cindek ulah ku turunan, tedak Muhamad Musa, sabab sieun teu panuju, inggis cara nu ayeuna.

    Péndék hayang anu adil, nu adil jeung palamarta, nu somah ngeunah ngadéngé, priyayi ngeunah ngawula, nagara jadi harja, geura hempék dulur-dulur, ayeuna urang ngadoa.

    Hamin…

    Mh. Sn.

    [edit] Meupeus keuyang

    SINOM (Liwung)

    Maos dina Kaum Muda, kaping dua likur Hapit, kitu-kitu cariosna, hal dalem marios S. I., bet matak sedih nya ati, mun nu henteu kudu nurut, nurutkeun ka kahayangna, lamun nu teu nurut pasti, digigila diancam nu matak reuwas.

    Reuwas sabab teu biasa, sieun nénjo lawang bui, nya kajeun bohong unjukan, lantaran sieun dibui, loba pisan nu geus bukti, dibuian nu teu nurut, nu teu nurut ka pangersana, pangersa bupati lantip, lantip sotéh da hayang meunang sorangan.

    Sarupi mariksa maksa, ngaku sotéh pédah ajrih, batinna sulaya pisan, kapan mungguhing di Gusti, kudu miconto nu suci, teu meunang bohong jeung wadul, ieu mah sasat dihaja, kuma teu rék pegel pikir, kieu susah kitu susah salawasna.

    Masih lamun nu enya mah, S. I. Afdeeling B. sidik, jeung geus terang pangnipuna, éta mah liwat ti wajib, najan dibuang dibui, nu kitu éstu panuju, mung mungguh ka nu henteu mah, nu nembé kasangka badis, abong-abong kacida kéna ka somah.

    Kitu lagu pamariksa, ditulad ku distrik-distrik, camat wadana ngancamna, teu béda reujeung bupati, mun teu ngaku rék dibui, hayoh kudu ngaku kitu, atuh mungguh nu bodo mah, lantaran kaliwat ajrih, nyumuhunkeun ka kabéh timbalanana.

    Masih mun teu disumpah mah, ya Allah ku matak ngerik, naha dalem kitu peta, nyiksana ka abdi-abdi, dorakana lahir batin, jalma nanggung sumpah palsu, geuning wet gé teu ngidinan, teu meunang bohong saeutik, ari ieu ku dalem téh bet dihaja.

    Abong kéna rasa murba, wisésa jeneng bupati, adigung kamagungan, asana kacida teuing, taya pisan hukum adil, padahal peta nu kitu, anu henteu kudu enya, lamun wangkal rék dibui, anu kitu ngaranna Hukum Hianat.

    Kuring saumur dumelah, bet kakara pisan nguping, pangkat dalem diarunghak, dipikaijid ku jalmi, rupa-rupa omong jalmi, sadayana sami giruk, aya nu nyebat turunan, Patih Marhum Sukabumi, ramana gé geuning saméméhna hilang. (..?)

    Palangsiang karesepan, moal kitu langlang-lingling, kitu panyeta rahayat, réh kejem kaliwat saking, teu émut sasama jalmi, abdi-abdi sami paur, teu kiat ngalamanana, mun tetep di Garut nagri, engké komo ayeuna gé teu ngareunah.

    Lampahna dalem ayeuna, kawas anu henteu éling, teu aya rasrasanana, asana kacida teuing, paingan pribasa cai, lamun di girangna kiruh, moal hérang di hilirna, ménak Garut kitu deui, tingkah polah teu béda jeung ti luhurna.

    Bukti camat hiji tempat, keur waktu mariksa kuring, kuring urang padésaan, dihantem dibulak-balik, disiksa liwat ti misti, lantaran teu daék nurut, nurutkeun kecapna camat, nerangkeun Bandéra S. I., ceuk camat téh kudu ngomong kieu sia:

    Bandérana opat rupa, Beureum – Hideung – Bodas – Kuning, jeung kituh deui cirina, Konéng nempuh Cina pasti, Hideung pikeun nempuh anti (?), Beureum nempuh B. B. kituh, Bodas nempuh Walanda, tah kudu kitu silaing, nya ngaku téh tangtu silaing salamat.

    Turug-turug ku gan lurah, leungeun dicekelan tarik, ku agan lurah di dinya, bari nyambung ngomong bengis, kumaha dawuhan tadi, ku silaing kudu aku, diranté lamunna wangkal, sarta tuluy éta jalmi, nurut baé lantaran sieun disiksa.

    Mangga ku sadaya manah, naha hukum kitu adil (?), bet ngaku sina sulaya, nerangkeun Bohong jeung Lain, karepna camat pribadi, kudu diturut digugu, aja deui hiji jalma, milikna téh cara tadi, dipariksa barina disingsieunan.

    Lampah kitu sumarambah, kejemna para pulisi, nalika ping dua welas, sasih nu parantos Hapit, éta jalma anu tadi, disiksa di kota Garut, diteunggeul puhu ceulina, tang ka nyuuh henteu éling, paneunggeulna jidar potong jadi dua.

    Ari nu neunggeulanana, jrutulis wadana distrik, keur waktu jero mariksa, sabab teu cocog verklaring, daptaran di onderdistrik, ku manéhna teu diaku, puguh éta mah daptaran, kahayang camat pribadi, ceuk jrutulis pangucap manéh daptaran.

    Waktos miunjuk téa mah, pisanggemna éta jalmi, namung abdi téh dipaksa, lantaran kaliwat ajrih, ajrih sieun dinyenyeri, ku camat sareng ku kuwu, padahal teu pisan-pisan, terang ka bandéra ciri, kitu-kitu éta mah dawuh anjeunna.

    Ti dinya ulis wadana, nyokot jidar neunggeul tarik, habek ka puhu ceulina, tang ka nyuuh henteu éling, ya Robbi kacida teuing, naha jaman naon atuh, cenah jaman kamajuan, bet ménak mah kana jail, majuna téh henteu parok kana jaman.

    Malah nepi ka ayeuna, éta jalmi anu tadi, wartos nepi ka torékna, duh Gusti kacida teuing, abong-abong ka nu leutik, ka saha atuh nyalindung, nyuuh ménta pangadilan, réh geus ruksak jalmi leutik, na di mana adil téh tempat tinggalna.

    Da béjana gupermen mah, adil nyekelna wet nagri, cing atuh éta tulungan, ulah bet diantep teuing, rayat sami gering ati, disiksa ku ménak Garut, gedé leutik kabéh rayat, geus sami raraheut ati, kulantaran polahna nu kejem téa.

    Kabéh abdi rahayatna, sadaya malungkir ati, taya deui sasambatna, ngan kasusah jeung kanyeri, yén dalem Garut teu adil, bénten sareng Dalem Marhum, jaman jeung Dalem Marhum mah, raharja jeung tiis ceuli, ménak mulya abdi-abdi tambah setya.

    Kuma pitungtungeunana, mun Gupermen teu ngumisi, kaayaan wawakilna, ménak Garut nu geus bukti, nyiksana ka abdi-abdi, neunggeul ngancam nu teu patut, padahalna kitu peta, matak jadi rujit nagri, mun diantep moal aya kabérésan.

    Béja ramé ka padésan, bawahan Garut apdeling, mun ingkah sadaya nadir, rupi-rupi omong jalmi, aya nu liwet sapendil, aja nu saratus kulhu, aya nu tilu patéhah, mugi-mugi Mahasuci, panedana nu rék kawul diijabah.

    Maos dina Padjadjaran, kaping genep likur Hapit, dulur Mh. Sn. Nyerat, éstu panuju téh teuing, sayaktosna abdi-abdi, rahayat bawahan Garut, baheula reujeung ayeuna, jauh ti tanah ka langit, baheula mah senang tiis dédéngéan.

    • Cakep euy

  8. SEJARAH SINGKAT GARUT
    Sumber:
    •Garoet Kota Intan – Drs. Kunto Sofianto, M.Hum.
    •Lampiran PERDA Kab. Garut No 11 Th 1981 Tentang Penetapan Hari Garut

    Latar Belakang :

    Sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendles dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila(indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit.
    Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cumurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun). Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.
    Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia “kakarut” atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau “ngabaladah” tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : “Mengapa berdarah?” Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi “gagarut”.
    Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan “Ki Garut” dan telaganya dinamai “Ci Garut”. (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut.. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.
    Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat “Babancong” tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik. Setelah tempat-tempat tadi selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada waktu itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.
    Pada tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakannya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). Pada masa pemerintahannya tepatnya tanggal 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik. Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut adalah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929).

    Perkembangan Fisik Kota :

    Sampai tahun 1960-an, perkembangan fisik Kota Garut dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama (1813-1920) berkembang secara linear. Pada masa itu di Kota Garut banyak didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pemerintahan, berinvestasi dalam usaha perkebunan, penggalian sumber mineral dan objek wisata. Pembangunan pemukiman penduduk, terutama disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat.
    Periode kedua (1920-1940), Kota Garut berkembang secara konsentris. Perubahan itu terjadi karena pada periode pertama diberikan proyek pelayanan bagi penduduk. Wajah tatakota mulai berubah dengan berdirinya beberapa fasilitas kota, seperti stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar.
    Periode ketiga (1940-1960-an), perkembangan Kota Garut cenderung mengikuti teori inti berganda. Perkembangan ini bisa dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan pertumbuhan penduduk.

    Keadaan Umum Kota :

    Pada awal abad ke-20, Kota Garut mengacu pada pola masyarakat yang heterogen sebagai akibat arus urbanisasi. Keanekaragaman masyarakat dan pertumbuhan Kota Garut erat kaitannya dengan usaha-usaha perkebunan dan objek wisata di daerah Garut.
    Orang Belanda yang berjasa dalam pembangunan perkebunan dan pertanian di daerah Garut adalah K.F Holle. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Kolonial Belanda mengabadikan nama Holle menjadi sebuah jalan di Kota Garut, yakni jalan Holle (Jl.Mandalagiri) dan membuat patung setengah dada Holle di Alun-alun Garut.
    Pembukaan perkebunan-perkebunan tersebut diikuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada Tahun 1917. Hotel-hotel tersebut merupakan tempat menginap dan hiburan bagi para pegawai perkebunan atau wisatawan yang datang dari luar negeri. Hotel-hotel di Kota Garut , yaitu Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotell Belvedere, dan Hotel Van Hengel.
    Di luar Kota Garut terdapat Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan di Cisurupan, Hotel Melayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang dan Hotel Cilauteureun di Pameungpeuk. Berita tentang Indahnya Kota Garut tersebar ke seluruh dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai tempat pariwisata.

    Penetapan Hari Jadi Garut :

    Sebagaimana sudah disepakati sejak awal, semua kalangan masyarakat Garut telah menerima bahwa hari jadi Garut bukan jatuh pada tanggal 17 Mei 1913 yaitu saat penggantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, tetapi pada saat kawasan kota Garut mulai dibuka dan dibangun sarana prasarana sebagai persiapan ibukota Kabupaten Limbangan. Oleh karena itu, mulai tahun 1963 Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 15 September berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta Sejarah yang mengacu tanggal 15 September 1813 tersebut pada tulisan yang tertera di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi. Namun keyakinan masyarakat terhadap dasar pengambilan hari jadi Garut pun berubah. Dalam PERDA Kab. DT II Garut No. 11 Tahun 1981 tentang Penetapan Hari Jadi Garut yang diundangkan dalam Lembaran Daerah pada tanggal 30 Januari 1982, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut dipandang lebih tepat pada Tanggal 17 Maret 1813.
    Penelusuran hari jadi Garut berpijak pada pertanyaan kapan pertama kali muncul istilah “Garut”. Seperti dijelaskan dalam Latar Belakang di atas, bahwa ungkapan itu muncul saat “ngabaladah” dalam mencari tempat untuk ibukota Kabupaten Limbangan yang diperintahkan R.A.A Adiwijaya sebagai Bupati yang dilantik pada tanggal 16 Februari 1813. Fakta tentang Jembatan Leuwidaun yang peletakkan batu pertamanya adalah tanggal 15 September 1918 juga tetap diperhitungkan. Dengan demikian, asal mula tercetus kata “Garut” adalah diyakini berada pada sebuah hari antara 16 Februari 1813 s.d. 15 September 1918.
    Dari berbagai penelusuran diketahui bahwa Bupati Adiwijaya dalam membuat kebijakan selalu meminta fatwa dari sesepuh yang diduga berkebudayaan Islam karena Suci berada di sekitar Godog, makam tokoh penyebar agama Islam. Bersumber pada tradisi tata perhitungan waktu masyarakat, diperkirakan bahwa panitia yang “ngabaladah” ibukota diperintahkan pada bulan Mulud sebagai bulan yang dianggap baik pada waktu itu. “Ngabaladah” tidak mungkin dilakukan pada tanggal 1 Mulud karena kepercayaan orang Sunda pada waktu itu adalah bahwa hari baik jatuh pada saat bulan purnama antara 12-14 Mulud. Karena, 12 mulud dianggap sebagai hari puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, maka yang paling diiyakini memungkinkan untuk “ngabaladah” adalah tanggal 14 Mulud. Menurut perhitungan waktu karya Roofer, hasil konversi tanggal 14 Mulud 1228 Hijriyah itu adalah tanggal 17 Maret 1913.

    Komentar : Tah ieu mah sejarah Kota Garut menurut versi sumber (diatas). tapi untuk memperluas pengayaan cakrawala wawasan ngenaan kota garut urang sadaya teu nanaon ngagali/nalungtik dari berbagai sumber/versi mana bae. Nu utamana mah supaya urang sadaya inget ka lemah caina. cag ….. urang tunda heula di handeuleum sieum pikeun alaeun jaga…..

  9. Sampurasun, punten sim kuring nembe muka deui ieu blog, hatur nuhun anu kahatur ti simkuring margi seueur pisan info na anu ngalantarankeun simkuring miboga wawasan anu langkung seueur anu kaitanna sareng sajarah Garut, Insya Allah ke simkuring hoyong nambihan naon-naon wae anu aya manfaatna kanggo kadang wargi di forum silaturahmi kel. Aki Jaya.
    Oge simkuring ngahaturkeun nuhun ka Kang Iman anu tos kersa rurumpaheun kaieu blog, janten nambih wargi.
    Komentar simkuring ngenaan sajarah Garut, tangtos numutkeun pamadegan simkuring wawasan anu sae ngenaan sajarah tempat kelahiran urang insya Allah bakal nambihan kacintaan urang ka tempat kelahiran urang anu bakal ngamumule budaya adat istiadat oge teu petot-petot ngaduhan impian kanggo ngamajeungkeun daerah Garut. Sagedengan ti dinya kacintaan ieu bakal ngaronjatkeun sumanget anu teu aya pegatna dina raraga ngawangun GArut, utamina tempat dimana urang dilahirkeun. Mung sakitu heula salam baktos ka sadayana

  10. sampurasun, ngiringan ngabandungan sasakala daerah urang sunda, insyaallah simkuring ngadukung pisan

  11. alhamdulilah, aya keneh urang Garut anu merhatoskeun wiwitanana.
    mudah-mudahan janten amal sae.

    • Alhamdulillah… hayu urang sasarengan ngahaeutkeun garut dina raraga ngarakeutkeun tali silaturahmi…

  12. assalamualaikum..
    teu tiasa ngucap teu tiasa nembong pribados rek silaturahmi kasadaya dulur di garut,kota intan anu endah ku alamna hayu urang sararea urang promosikeun kota garut ka kota-kota lain mudah-mudahan dugi ka luar nagara batur.aqmin

  13. kami sbagai warga tatar sunda kab garut…ber harap kabupaten garut lebih maju dan sejah tera..ciptakan perdamaian tinggalkan kekerasan..tindak tegas KORUPSI.pedulikan rakyat kecil..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: