Oleh: abusyafiq | September 15, 2008

Manusia (Kadang) lupa akan campur tangan Allah SWT

By Wahyu Raksaguna

Manusia itu suka menghitung

Menghitung apa yang masih kosong
Agar terpenuh segala hidup dengan kemewahan dan isi dunia

Manusia itu suka menghitung
Menghitung keuntungan dunia yang dicari
Aduh.. Masih belum mencukupi
Tembolok duniaku ini?

Kasihan…
Manusia tidak suka menghitung
Segala dosa yang tergantung

Di kiri bahu setiap hari
Ah.. Biarlah, mati lambat lagi (bukankah mati itu tidak kita ketahui?)

Ah.. Biarlah, masa muda cuma sekali (bukankah di syurga nanti semuanya akan muda kembali?)

Ah.. Biarlah, hidup cuma sekali (bukankah di akhirat ada kehidupan lagi?)

Ah.. Biarlah, enjoy dulu, tua nanti taubat boleh lagi (bukankah taubat itu tiada usia diberi?)

Kasihan…
Manusia tidak suka menghitung
Rahmat yang diberi
Oleh Tuhan Yang Maha Memberi
Apa pulak… Semua ni aku yang usaha sendiri
Geniusnya aku ni,
Geliganya aku ni,
Bukannya sebab lain,

Kenapa pulak ni… Bukan ke tangan aku yang buat semua ni,
Apahalnya tak menjadi
Ni semua salah taqdir
Kena pulak kat aku

Manusia suka menghitung
Menghitung harta peribadi
Menghitung jasa yang diberi
Menghitung pahala sendiri
Menghitung kebaikan diri

Jarang sekali
Mereka menghitung
Dosa yang dilakukan sehari-hari
Hati yang lalai setiap detik
Ingatan sentiasa mengalir diberi, namun hati tetap mati

Jarang sekali mereka menghitung
Kasih sayang Ilahi yang sentiasa mewangi
Dalam suka, dalam duka, dalam tawa, dalam tangis, dalam pandai, dalam bodoh, dalam cantik, dalam hodoh, dalam cahaya, dalam kelam, dalam sakit, dalam sihat, dalam cinta, dalam benci, dalam…dalam segala dalam

Aduh…
Sukarnya mengingati Allah sehari-hari
Sukarnya membawa Allah ke dalam hati

Di manakah kita hari ini?

——————————-

Seorang yang rela diatur sepenuhnya oleh Allah, itulah sesungguhnya seorang yang berserah diri (Al-muslimuun). Ia tidak mengeluh sekecil apapun terhadap segala kesusahan yang diberikan Allah kepadanya, apalagi memberontak. Dia juga selalu bersyukur terhadap apa jua yang diberikan oleh Nya.

Apa sebenarnya yang menyebabkan kita selalu tidak bersyukur, mengeluh, dan memberontak atas apa yang diberikan Allah kepada kita? Jawabannya adalah karena kita memiliki apa yang disebut dengan ‘keinginan’. Dengan adanya keinginan, maka muncullah ‘kesenangan’ dan ‘kesusahan’. Apabila tidak ada keinginan niscaya tidak ada yang disebut sebagai ‘kesenangan’ dan ‘kesusahan’.

Keinginan2 muncul kerana dalam diri manusia ada ego dan di luarnya ada kehidupan duniawi yang ‘menarik’. Ego menyebabkan munculnya sifat2 keakuan seperti ingin ingin dipuji, ingin disanjung, ingin dikenali, sombong, riya’, ujub, marah, iri, hasad dengki dan banyak lagi yg terwujud dari keinginan2 ego tersebut. Kehidupan dunia yang ‘menarik’ pula menyebabkan munculnya berbagai wujud keinginan tadi yang menyebabkan manusia ingin ’senang hidup di dunia’ dan ‘takut menghadapi kematian’.

Maka penyerahan diri kepada Allah haruslah dimulai dengan belajar menerima apapun yang diberikan Allah kepada kita dan berkorban bagiNya. Belajar menerima apapun yang diberikan oleh-Nya dimulai dengan mengendalikan keinginan2 diri yg tersebut di atas.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menghadapkan wajahnya dengan menyerahkan dirinya kepada Allah. – (QS. 4:125)

Dari Anonymous…

http://www.melayu.sg


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: