Oleh: abusyafiq | September 24, 2008

PETA JARING-JARING IDEOLOGIS DALAM SEJARAH PSIKOLOGIS RELASI SUNDA-ISLAM

By Ahmad Gibson Al-Bustomi

Resend By Iwan Ridwan

Jerit Dewi Asri ngajerit…..”Deudeuh akang Mundinglaya di Kusumah, tiwas-tiwas, ti peuting kaimpi sumping, ti beurang kaetang datang, bisi kasilih kujunti, ulah kabeunangan bagja. Sugan teh kukupu hideung, sihoreng obat kabeuleum; suganteh Mundinglaya kukuh katineung, sihoreng kabengbat deungeun…”
K.H. Hasan Mustapa

Relasi antar budaya dalam wacana apa pun, senantiasa berhadapan dengan sekat-sekat idelogis. Relasi Timur-Barat, sebagai contoh, sangat sarat dengan nuansa-nuansa ideologis, demikian pula relasi antara agama dan antara budaya lokal. Fenomena relasi Sunda-Islam yang kini marak dibicarakan, apalagi dengan munculnya isu Islamisasi budaya dan isu kebangkitan budaya lokal Sunda, telah merentang garis-garis ideologis yang memisah dan milah. Garis ideologi yang memilah dan memisah tersebut telah mengaburkan ideologi yang telah sekian lama hidup dalam pikiran masyarakat Sunda: “Sunda-Islam, Islam-Sunda”.
Garis ideologi tersebut terbentuk oleh siskap-sikap radikal dan fundamental dari kedua belah pihak.
Kemunculan sikap radikal dan fundamental dari pihak agama (Islam, pesantren) terhadap budaya lokal, Sunda, terjadi dalam rentang sejarah psikologis yang rumit. Kerumitan yang terlahir dari sejarah psikologis yang melahirkan trauma yang berkepanjangan, sehingga merasuk dalam bawah sadar masyarakat, sehingga terbentuk lokus neurosis dalam masyarakat Sunda-Islam. Neurosis yang melahirkan sikap ambivalen dalam dirinya, di satu sisi ia sebagai individu dan masyarakat yang beragama Islam, di sisi lain sebagai bagian integral dari sejarah primordial budaya dan masyarakt Sunda.
Pada awal masuknya Islam ke tatar Sunda, setelah melewati proses sejarah psikologis yang cukup rumit, sehingga dianggap perlu untuk memunculkan mitos-mitos, seperti mitos kebertemuan Kian Santang dan Baginda Ali, mitos dialog Kian Santang dan Prabu Siliwangi dan mitos-mitos lainnya, pada akhirnya dengan kemunculan Sunan Gunung Jati sebagai cucu Prabu Siliwangi relatif bisa terselesaikan. Kehadiran Sunan Gunung Jati yang bersikap apresitif terhadap budaya lokal, seperti halnya beberapa Wali lainnya di Jawa, telah secara efektif meredakan konflik tradisi Sunda-buhun dengan Islam, walau pun memang pada kenyataannya masih menyisakan persoalan. Namun, secara umum, trauma tersebut telah terangkat dari sisi gelap bawah sadar masyarakat Sunda.
Namun, tragedi psikologis masyarakat Sunda tersebut kembali teralami, ketika ekspansi Islam-Mataram melanda tatar Sunda, khususnya wilayah Priangan, dengan karakteristik dan akibat yang beragam untuk setiap wilayah. Wilayah Sunda pesisir utara, yang merupakan jalan lintas Mataram-Batavia, yang dilewati pasukan Mataram telah merubah sistem pertanian, pola relasi sosial dan pandangan kosmiologi khususnya pandangan kosmologi tentang wanita dan simbol kosmolgi “dewa” kesuburan. Hilangnya sosok Sunan Ambu dan dewi Sri yang sebagai simbol kesuburan yang dipandang sebagai sosok yang lembut dan sangat menjadi tata sopan satun serta unsur keibuan, telah merubah karakteristik masyarakat masyarakat Sunda pesisir utara yang cenderung eksplotatif terhadap unsur-unsur erotik. Hal ini, bisa dipahami, karena wilayah pesisir utara selain sebagai jalan lintas pasukan Mataram, adalah juga menjadi lumbung padi yang menyediakan akomodasi pasukan. Maka, wilayah tersebut menjadi tempat peristirahatan, sehingga memerlukan hiburan pelepas lelah. Maka, muncullah seni tradisi Tayuban, Ronggeng dan seni tradisi sejenis. Bahkan lebih dari itu, warung remang-remang menjadi bagian dan identitas yang sulit bisa dipisahkan dari masyarakat tersebut, identitas yang diwariskan oleh pasukan Mataram.
Berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat Sunda yang berada di wilayah pedalaman. Karena kontak Sunda-mataram tidak terjadi secara langsung dan diantarai oleh para priayinya, mereka memiliki kesempatan untuk melakukan penyaringan terhadap interpensi budaya tersebut. Peralihan sistem nilai budaya di wilayah pedalaman lebih banyak terjadi pada aspek-aspek kebahasaan, sebagai pengaruh kepentingan para Priayi Sunda berhubungan dengan pusat kekuasaan Mataram, yaitu dengan bahasa Jawa. Pengunaan bahasa jawa oleh para Priayi Sunda telah pula berpengaruh terhadap media komunikasi antara masyarakat Sunda pada umumnya dengan para Priayinya.
Dalam hal seni tradisi, karena seni tradisi kraton yang berpengaruh, seni seni tradisi yang berkembang adalah seni tradisi kraton yang masih berpijak pada norma-norma susila tinggi, kraton. Kondisi yang kemudian telah melahirkan seni tradisi Cianjuran melalui tangan Pangeran Pancaniti, Priyayi Cianjur.
Sulit untuk diungkap, bagaimana sikap budayawan Sunda pituan yang tidak terpengaruh oleh tradisi Mataram terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan yang dialami oleh sejumlah besar masyarakat Sunda. Akan tetapi, bila melihat fenomena kemunculan sistem budaya baru yang secara efektif menenggelamkan sistem nilai budaya Sunda pituin atau paling tidak menjadikan budaya dan sistem nilai budaya Sunda, bisa diperkirakan bahwa terdapat sikap lain dari para budayawan pituin ini. Demikian juga sulit untuk dipastikan bagaimana sikap pesantren-Sunda warisan tradisi ke-Wali-an Sunan Gunung Jati, khususnya terhadap fenomena di eilayah pesisir utara?
Bila dipetakan secara tegas, terdapat empat titik grafitasi yang terlahir dari kehadiran Mataram di tatar Sunda. Antara lain, titik grafitasi Budayawan Sunda-pituin, Pesantren-Sunda, Priayi dan budayawan Mataram, pesantren-Mataram. Dan secara garis besar dapat dipetakan dalam dua titik grafitas, yaitu Sunda dan Mataram. Perjalanan sejarah psikologis Sunda-Mataram ini belum tuntas ketika secara kumulatif ditambah dengan berlanjut penjajahan Belanda, yang menggunakan pola relasi warisan Mataram di tatar Sunda.
Trauma psikologi masyarakat Sunda semakin menjadi-jadi ketika terjadi gerakan ortodoksi di kalangan masyarakat Sunda-Islam, yang mengibarkan gagasan kembali pada alquran dan sunah. Sunda-Pesantren pada akhirnya sibuk menghadapi dengan gerakan ortodoksi tersebut, yang pada akhirnya pesantren-Sunda lebih memijakkan pada warisan Islam Kalsik Timur tengah dari pada Islam-tradisi Sunda warisan ke-Wali-an. Dan kedua kelompok Islam ini (gerakan ortodiksi-Islam dan Islam-tradisi) menggunakan cara modern untuk menggorganisir gerakannya. Sejak itulah, Sunda-pituin terhapus dari agenda harian pesantren-Sunda. Atau, jangan-jangan lahirnya kedua model gerakan Islam tersebut (Islam- Ortodoks dan Islam-tradisi) telah dengan sendirinya menghapus kehadiran Islam-Sunda atau Sunda-Pesantren dari peta masyarakat Sunda. Sejak itu, jembatan yang mengantarai secara sinergis antara Sunda-pituin dengan Islam, yaitu Pesantren-Sunda atau Sunda-Islam, maka hubungan yang harminis antara Sunda dan Islam terputus.
Selanjutnya, muncullah fenomena reaksioner dari kalangan Islam maupun budayawan Sunda, baik Sunda-pituin maupun budayawan Sunda penganut agama Islam terhadap Islam Fundamentalis (Istalam-tradisi dan Islam-ortodoks) dan sebaliknya. Pertentangan ideologis antara Islam-ortodoks dan Islam-tradisi menjadi pemicu munculnya reaksi dari budayawan Sunda kontemporer, maka lahirlah gagasan Kebangkitan Sunda bersamaan dengan isu otonomi daerah.
Pertentangan ideologis yang mengantarkan pada pertentangan-pertentangan politik golongan, telah menggeser wacana dunia Islam, dari wacana keagamaan menjadi wacana kekuasaan, politik. Agama (Islam) yang pada awalnya sebagai oposisi terhadap bentuk-bentuk kekuasaan seperti yang terdapat dalam sejarah ketasawufan (karakteristik Islam Sunda awal), pada akhirnya menjadikan unsur kekuasaan (politk) sebagai bagian integral dari Islam dan menyeret Islam mejadi kekuasaan itu sendiri, alat kekuasaan. Maka, wajar bila kemudian ada nada “miring” terhadap gerakan Islamisasi Islam melalui jalur kekuasaan, yang oleh Iip disebut dengan “Syariat Islam” lebih merupakan (sebagai) propaganda politik dari pada proses Islamisasi yang sesungguhnya.
Kondisi ini, pada akhirnya menjadi ancaman bagi proses Islamisasi yang sesungguhya dan menjadi ancaman bagi obsesi-obsesi Renaisance atau kebangkitan kembali Sunda. Lalu bagaimana solusi yang bisa dikemukakan untuk mencairkan masalah tersebut. Sungguh beralasan kekhawatitan Iip, bahwa “gerakan” institusionalisasi Syariat Islam dan sosialisasi “sareat” Sunda bisa mengancam gerakan Islamisasi maupun Renaisance atau kebangkitan kembali Sunda.
Bila menggunakan pendekatan psikoanalisis Freudian, tampak bahwa masyarakat Sunda telah mengalami tragedi yang berkarat dalam wilayah tak sadarnya. Tragedi yang melahirkan sikap-sikap neurosis, sikap yang terkritaslisasi dalam sikap amnesia, lupa akan diri. Masyarakat yang tercerabut dari sejarah primordialnya. Masyarakat yang tercerabut dari kearifan kesundaanya dan tercerabut dari kearifan keislamannya. Kearifan keislaman yang memandang tradisi sebagai bagian dari sunah Allah, al’adah al-muhakkamah; bilisani kaumihi; kearifan trans-peradaban: utlubu al-ilmi walau bi sin. Kearifan kesundaan yang berpijak pada adagium “Sunda Besar” yang memandang bangsa apa pun sebagai Sunda. Kini, isu-isu partialistik yang ekslusif-lah yang muncul kepermukaan, isu yang memilah-milah dan memutuskan hubungan manusia dari ikatan primordial dengan alam dan manusia secara keseluruhan.
Maka, bila Sunda dan Islam pra intervesi Mataram, bisa bergandengan tangan secara harmonis dan menyimpan perbedaan-perbedaan sebagai potensi dinamis dalam melahirkan kebudayaan baru melalui negosiasi-kultural, dengan adanya Sunda-pesantren atau Sunda-Islam yang diwariskan dari tradisi kewalian, kenapa tidak hal tersebut tidak kembali dihidupkembangkan? Sunda-pesantren yang memiliki apresiasi yang positif terhada budaya lokal sehingga melahirkan sikaf prouktif dalam bidang budaya; dan Sunda-pituin yang juga apresiatif terhadap dunia kepesantrenan yang juga melahirkan sikaf produktif dalam bidang budaya dan spiritual.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: