Oleh: abusyafiq | Oktober 14, 2008

Hari Kedamaian Untuk Semesta

Oleh : Yanuar Arifin*

Pengirim : Iwan Ridwan

Hari Idul Fitri merupakan hari kemenangan, hari revolusi, hari penuh cinta dan kedamaian manusia. Pada hari itu manusia dalam suasana bahagia merayakan kebebasannya sebagai makhluk yang suci. Setelah satu bulan penuh menggembleng dirinya dengan ritualitas ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Dalam suasana dan kesucian diri inilah, manusia kembali merengkuh kebahagiaan primordialnya yakni kehidupan yang damai, tentram hidup berdampingan seraya saling maaf-memaafkan kesalahan antara individu satu dengan yang lainnya. Dalam suasana hidup penuh kedamaian itu, manusia tidak lagi memandang ras, suku, golongan dan agamanya. Sebab Islam adalah agama kedamaian. Agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal, melenyapkan belenggu perbedaan, penyebab terjadinya pertikaian di muka bumi.

Pertikaian antar umat manusia telah menggugah jiwa kesadaran pada setiap individu untuk mewujudkan kedamaian di muka bumi. Kesadaran itu merupakan bentuk dari kerinduan manusia akan kasih sayang Tuhan dan sesama. Dan momentum hari raya Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk kita saling tebar salam dan kasih sayang. Sebagaimana firman Tuhan “Di sana mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia, juga tidak ucapan tuduhan berdosa, melainkan ucapan “Damai, damai!”semata.” (Qs. Al-Waqi’ah/56:25-26).

Seruan damai Tuhan telah mengilhami manusia untuk mewujudkan misi-misi kedamaian. Misi-misi ini merupakan makna dari seluruh rangkaian ibadah umat Islam di bulan suci Ramadhan sampai hari raya Idul Fitri. Misalnya dalam ibadah puasa, manusia akan memahami esensi ibadah puasa itu sendiri yakni merpertajam keimanan dan ketakwaan yang diwujudkan dalam keeratan hubungan vertical dengan Tuhan (hablum minallah). Manusia belajar akan sifat-sifat ketuhanan.

Menurut Prof. Dr. Qurais Syihab, dalam ibadah puasa manusia diajari untuk mencontoh sifat Tuhan. Ia tidak makan dan welas asih maka manusia juga belajar untuk tidak makan dan welas asih pada sesamanya. Esensi yang lain adalah mempertajam sensifitas sosial antar sesama sebagai wujud hubungan horizontal (hablum minannas). Hubungan ini berbentuk ketajaman nurani dalam mendengar, melihat, dan menyikapi berbagai problematika kemanusiaan di sekitar kita. Indiktornya, setidaknya kita dapat berempati dengan golongan miskin dan kurang beruntung seperti para korban bencana alam, korban kekerasan, korban ketidakadilan sosial dengan segala jenis penderitaannya sebagai orang-orang kecil. Dengan memahami kedua esensi ini, manusia diharapkan akan menjadi para pionir pembawa panji-panji kedamaian dunia.

Pesan sosial dan damai yang hidup

Dalam konteks Idul Fitri, manusia juga diharapkan menangkap pesan-pesan Ilahiah. Dalam artian mampu memaknai idul fitri dengan pendekatan dan aksi-aksi sosial yang hidup. Sehingga momentum idul Fitri tidak kering dan sepi dari ritus kebajikan. Idul fitri, manusia harus dekat dengan sesama dan kemanusiannya terutama bagi mereka yang telah lama tertindas dan terkungkung oleh sejarah.

Menurut Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Idul Fitri seyogyanya juga harus dimaknai sebagai momentum untuk kembali pada kampung rohani. Inilah saat menegaskan komitmen keilahian —yang telah diteken manusia sejak zaman azali— bagi kemanusiaan universal. Dalam artian manusia harus kembali mengunjungi dunia ilahiahnya yang teraplikasikan dalam segala jenis perbuatan yang menjunjung tinggi norma-norma kemanusiaan.

Ironisnya, bagi sebagian besar manusia idul fitri hanya dimaknai sebagai ritus tradisi yang harus dimeriahkan dengan berbagai jenis perayaan semacam pesta yang meriah. Perayaan inilah yang terkadang menumbuhkan benih-benih pertikaian. Sebab dalam ritual ini, seringkali manusia terjebak dalam kebahagiaannya sendiri dan melupakan kebahagiaan orang lain. Acuh atas penderitaan kaum mustadh’ifin (kaum teraniaya dan tertintas). Jika ritualitas semacam ini tumbuh dan menggejala dalam setiap individu, dapat dipastikan cita-cita untuk mewujudkan kehidupan yang damai hanya akan menjadi slogan kosong.

Berkaca pada hal ini, umat manusia seharusnya pada hari raya idul fitri mulai berlomba-lomba untuk memperbanyak kebajikan. Dengan itu, tongkat estafet kebajikan yang membekas dari ritual ibadah di bulan puasa dapat diteruskan bahkan dapat dikembangkan. Jangan sampai penggemblengan diri selama satu bulan penuh itu tak membekas pada diri, bahkan sia-sia. Sebagaimana statement baginda Rasul SAW “Beberapa banyak orang puasa hanya mendapat lapar dan dahaga; dan beberapa banyak orang yang mendirikan ibadah di malam hari, hanya mendapatkan bergadang saja”. (HR. Nasa’i)

Maka pesan ilahiah untuk segera kembali menyambangi kampung rohani harus kita jalankan dengan kerendahan hati. Pada hari idul fitri itu, kita akhirnya tidak hanya pulang kampung untuk bertemu dengan sanak keluarga atau famili sebagai wujud kerinduan kita pada mereka. Akan tetapi kita juga pulang kampung untuk bertemu dengan Tuhan. Bukankah puncak kerinduan dan kebahagiaan manusia adalah ketika ia bertemu dengan penciptanya?. Sekiranya, pertanyaan ini tidak dipahami secara tekstual, orientasinya lebih ke arah kontekstual. Sehingga manusia yang kembali ke kampungnya, ketika ia saling memadu kasih dengan sesamanya, pada hakikatnya ia sedang memadu kasih dengan Tuhannya.

Maka, dalam momentum Idul Fitri, manusia baru dapat dikatakan kembali kefitrahnya jika ia telah menjalankan proses perjalanan ke kampong rohaninya. Ia telah kembali menjadi makhluk yang suci sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Dengan melalui proses panjang menuju kesucian inilah seorang manusia kembali tersadar bahwa sebenarnya ia memikul beban tanggung jawab yang tidak ringan. Ia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk merawat, dan menjaga kedamaian semesta. Ia diciptakan dalam keadaan yang mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Ia mempunyai akal dan hati nurani sebagai penuntun ke arah kebajikan. Namun, sekali lagi ketika manusia mulai mengingkari segala nikmat dan anugrah yang telah dikaruniakan Tuhan, ia akan menjadi makhluk yang hina bahkan ia lebih hina dari binatang.

Akhirnya, mari momentum idul Fitri kita jadikan awal perjuangan kita untuk mewujudkan perdamaian. Melalui tafakkur, tadabbur dan instropeksi diri individu, kita menuju instropeksi kolektif. Sehingga misi-misi kedamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, akan tetapi misi-misi itu adalah tanggung jawab kita bersama. Salam damai, penuh cinta dan kedamaian di hari yang Fitri.

* Penulis adalah Pengamat Sosial-Agama-Kebudayaan & Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie (PPM.Hasyim Asya’rie) Yogyakarta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: