Oleh: abusyafiq | Oktober 14, 2008

Makna Sosioreligius Mudik

Oleh Ahmad Nada

Pengirim : Iwan Ridwan

DATANG masanya sebuah peristiwa membuat sejenak konflik sosial-ekonomi-politik-keamanan di negara kita terlupakan. Peristiwa kebudayaan itu — meminjam istilah budayawan Umar Kayam — akan kembali berulang. Mudik (pulang kampung), rutinitas tahunan yang senantiasa terjadi menjelang Idulfitri.

Tradisi mudik merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang tidak dijumpai di negara lain. Bahkan, inilah mobilisasi penduduk yang diperkirakan terbesar di dunia. Tahun ini saja, diperkirakan jumlah pemudik akan mencapai 19 juta orang!

Meski dahulu, mudik atau pulang kampung hanya dilakukan kaum pinggiran yang migrasi ke Jakarta, sejak medio 1970-an kaum urban bukan lagi didominasi kaum marginal. Roda pembangunan yang menggelinding cepat, membutuhkan pendatang yang pintar dan bergaji besar. Artinya, tradisi mudik kini tak lagi harus dikaitkan dengan status sosial para pelakunya. Apalagi hanya jika dikaitkan kepulangan masyarakat Jawa.

Memang, secara historis, menurut budayawan Jacob Soemardjo, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah mengenal tradisi ini jauh sebelum berdiri Kerajaan Majapahit untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Sejak pengaruh Islam masuk, tradisi ini berangsur terkikis, karena dianggap syirik. Namun peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idulfitri.

Kini, tradisi mudik menjadi fenomena menarik, sebab ia mampu menembus batas-batas rasionalitas. Bayangan kegembiraan akan merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, keriangan akan bersua dengan sanak keluarga, serta kekhidmatan mencium kembali kampung halaman menghilangkan kesusahan dan hiruk-pikuknya suasana yang terjadi. Kampung halaman akan senantiasa berkesan bagi kaum urban yang merantau. Tak mengherankan jika jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri. Pemudik rela menghabiskan tabungan hasil keringatnya bekerja dalam setahun, rela berdesakan dalam kendaraan, tersiksa dalam perjalanan, dan siap bermacet ria berjam-jam lamanya. Bahkan, mereka terkesan kurang mempedulikan keselamatan pribadi dan keluarganya. Gambaran tersebut membuktikan betapa peristiwa kebudayaan itu sangat dinantikan.

Sosioreligius

Dari hal di atas, kita juga dapat melihat betapa arus urbanisasi ke kota-kota besar telah begitu membengkak seiring dengan tumbuhnya industrialisasi di kota-kota besar. Ditambah lagi dengan meningkatnya kesadaran berpendidikan kaum muda pedesaan. Ketika itu, secara sosiologis terjadi peristiwa unik.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu (1994) menulis, orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya. Mudik itu menandakan komitmen batin manusia terhadap sangkan paran dirinya.

Lebih jauh, Umar Kayam dalam Seni, Tradisi, Masyarakat (1981) menunjukkan, ketika orang-orang desa memutuskan pergi ke kota dan menetap atau tinggal sementara, nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan dari milieu (lingkungan) kebudayaannya yang lama (desa) dikonfrontasi oleh nilai-nilai lain dari milieu yang lain pula (kota). Bagi yang mampu beradaptasi dan menetap, inilah yang disebut dengan kaum “urban baru”. Nah, bagi kaum inilah, mudik menjadi momen yang sangat dinantikan untuk mengunjungi kampung halamannya. Dan, secara transendental, semua itu bermuara pada hari kemenangan umat Islam, yakni Idulfitri.

Menurut Cak Nun, orang berusaha berikrar bahwa ia berasal dari suatu akar kehidupan: komunitas etnik, keluarga, sanak famili, bapak-ibu, alam semesta, berpangkal (atau berujung) di Allah melalui runtutan akar historisnya. Kesadaran semacam itu tampak dari mereka (para pemudik) yang berusaha untuk sedapat mungkin berada di tengah-tengah keluarga dan sanak kerabat tatkala Idulfitri tiba untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan, serta menunaikan kewajiban membayar zakat di kampung halamannya.

Secara ekonomis, aliran modal mengalir ke kampung ketika mudik terjadi. Semua itu diikat oleh sebuah kesadaran dan komitmen keimanan kepada Allah SWT. Tesis Edward Shills (Nasikun, 1984) yang menyatakan, dalam masyarakat kita ditandai adanya jurang yang memisahkan antara sejumlah kecil orang kaya dengan sejumlah besar warga masyarakat yang melarat.

Pendek kata, jurang perbedaan tersebut terjadi antara sekelompok orang-orang yang bergairah, penuh aspirasi, relatif kaya, berpendidikan serta berpengaruh dari kota-kota besar, dengan orang-orang desa yang kurang bergairah, melarat, kurang berpendidikan, serta tidak berdaya, untuk sementara saat idulfitri terbantahkan.

Dalam suasana lebaran, gambaran provokatif Shills pupus. Di sana, tidak ada lagi sekat-sekat kesenjangan, karena semua strata sosial dalam masyarakat berbaur. Ketika itu, rakyat jelata saling bersalaman dengan pimpinannya, kaum fakir saling berkunjung dengan ulama panutannya, golongan sub-urban saling berkomunikasi, baik dengan sesamanya maupun dengan warga kampung lainnya.

Halalbihalal

Yang turut pula mewarnai suasana Idulfitri di negeri kita adalah tradisi “unik” halal bihalal. Unik, karena di negeri Arab sendiri tidak dikenal tradisi itu. Kendati demikian, forum yang biasanya diadakan secara formal, lengkap dengan seremonial, makan-makan, dan hiburan, tetap relevan untuk diadakan. Yang terpenting adalah makna yang terkandung di dalamnya. Karena, nilai-nilai islami tetap bisa dikembangkan, yakni silaturahim.

Sebenarnya, banyak manfaat yang bisa diambil dari forum semacam ini. Ia bisa menjadi sarana sosialisasi pelbagai kemajuan yang dicapai dan rencana program yang akan digelar kepada para putera daerah. Mereka, yang hanya sempat pulang setahun sekali, menjadi tahu bagaimana perkembangan daerahnya. Sehingga, diharapkan keterikatan yang kuat dengan kampung halamannya.

Dengan segala kearifan, aparat dan para tokoh panutan setempat dapat menginformasikan pelbagai hasil yang dicapai serta kendala-kendala yang menyertai pembangunan daerahnya. Sebagai kaum yang berasal dari daerah, di mana rasa tribalisme (ikatan dan kesetiaan pada kesukuannya) sangat dominan, tentu mereka tak akan segan-segan mengulurkan tangannya.

Agar lebih langgeng, dapat dibentuk sebuah forum komunikasi sebagai media penghubung antara aparat dengan putra daerahnya, baik berupa yayasan maupun bentuk lain. Ini bukan berarti mengembangkan semangat primordialisme, tapi semata-mata demi kemajuan daerah.

Tampaknya, sampai hari ini budaya lebaran masyarakat kita — severbal-verbalnya atau senorak-noraknya — tetap memiliki nilai dan keterkaitan dengan inti Idulfitri. ***

Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, Sabtu, 13 November 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: