Oleh: abusyafiq | Oktober 14, 2008

Mudik, Kembali Mereguk Semangat di Udik

Oleh: Sofia Ningsih Rahayu Putri

Pengirim: Iwan Ridwan

LEBARAN sebentar lagi. Demikian salah satu bait nyayian menyambut Idul Fitri atau Lebaran. Hari-hari di pengujung dan selepas Ramadan menjadi momentum untuk bersilaturahmi. Idul Fitri selalu dimaknai kembali ke fitrah atau kesucian diri, sehingga yang diharapkan adalah saling memaafkan serta merekatkan lagi ikatan kekerabatan.

Mudik bertujuan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Demikian juga setelah kembali ke lingkungan kerja, segera digelar silaturrahmi dengan seluruh komponen perusahaan atau lazim disebut halalbihalal.

Dilihat secara sosiopsikologis, fenomena mudik justru menjadi kebutuhan sosial, bahkan sebagai subkultur di tanah air. Sudah semestinya budaya mudik penting sebagai relasi sosial yang dilandasi keterlibatan emosi intens, misalnya hubungan sedarah atau seperguruan.

Fenomena tersebut menunjukkan kampung halaman dan ikatan kekerabatan bukan penanda dari mana mereka berasal, tetapi juga memberi spirit identitas baru yang harus diwujudkan.

Tradisi mudik bukan sekadar memperlihatkan keberadaan (being), melainkan juga mencerminkan proses manusia yang terus menjadi (becoming). Karena itulah, ikatan dengan kampung halaman dan kerabat terus dipelihara sampai dewasa.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang begitu tinggi membuat biaya operasional mudik tahun ini meningkat berlipat ganda. Misalnya ongkos naik bus dari Jakarta ke Solo Rp. 150.000/ orang. Jika 4 orang dalam satu keluarga berarti Rp. 600.000.

Belum lagi ang pau untuk sanak saudara serta ongkos baliknya. Namun, karena tekad sudah bulat, berapa pun biayanya dan apa pun risikonya tetap dijalani asal bisa berkumpul dengan sanak saudara.

Itu baru satu keluarga. Padahal mudik adalah gerakan massal “si udik” dari kota menuju desa (kampung halaman). Ratusan ribu hingga jutaan orang berebut karcis bus, kereta api, kapal laut, dan pesawat udara.

Makna Mudik

Kata mudik berasal dari kata “udik.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sungai di sebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) di hulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.

Namun ada makna kedua dalam KBBI, yaitu desa, dusun, kampung (lawan dari kota). Kesan yang berkembang di masyarakat cenderung ke arah konotasi negatif, karena “orang udik” atau orang “dusun” sering dikaitkan dengan kebodohan dan kurang tahu sopan santun.

Lain dengan orang Jawa yang mengartikan “mudik” dengan naik. Contohnya andai seseorang memanjat pohon untuk memetik buahnya, lalu orang lain (orang Jawa) yang ada di bawah akan mengatakan, “Mbok mudiko sithik” yang berarti, “Coba naiklah sedikit.”

Spiritual

Itulah sebabnya kata “mudik” punya arti naik yang dapat dimaknai secara spiritual, yakni upaya menaikkan spiritualitas kita agar lebih tinggi lagi setelah sekian waktu berada dalam kehidupan kosmopolitan kehilangan spiritualitas, karena dipenuhi persaingan dan materialistis.

Kehidupan di kota yang keras menyebabkan aktivitas spiritual “si udik” sudah tidak lagi mampu menahan kemaksiatan.

Manusia tidak hanya butuh makan dan minum, sukses menjadi pejabat atau menjadi orang kaya. Lewat mudik secara psikologis memberi sumber kekuatan mental baru bagi mereka. Sebab, selama ini kehidupan di kota bagai fatamorgana, mereka berada di suatu tempat yang asing, panas, dan “menipu”.

Dalam suatu waktu mereka akan kelelahan, bosan, dan jenuh serta membutuhkan tempat yang lebih nyaman dan aman.

Pada prinsipnya “udik” punya kesamaan dengan hulu, keduanya memiliki pengertian positif dan negatif. Jika seseorang mudik sebaiknya tidak sekadar pulang ke desa dan kampung halaman atau lawan kata kota. Seyogianya juga melakukan “perjalanan” dari “hilir” ke “hulu.”

Ibarat menyusuri sungai berjalan dari bagian hilir yang kotor dan penuh polusi menuju bagian yang bersih dan bening. Dalam ajaran Islam juga ada istilah “hulu” dan “hilir.”

Kalau mau mencari Islam yang bersih, maka carilah ke hulu jangan ke hilir. Islam orisinal adalah Islam yang ada di “hulu”, yakni Islam Nabi dan para sahabat yang oleh Nabi disebut sebagai “sebaik-baik periode.”

Lalu, Islam berkembang sejalan dengan tuntutan. Di situlah pengembangan dan penambahan terjadi hingga seringkali timbul silang pendapat dan kerancuan.

Melalui kerancuan itulah muncul gerakan purifikasi, yakni gerakan pemurnian menuju “hulu.”

Menjelang Ramadan berakhir banyak saudara kita yang ke “hulu” alias mudik. Dalam pengertian sosiologis adalah pulang ke kampung halaman setahun sekali sesudah menetap di “hilir”. Mereka bersilaturahmi, bersalam-salaman, saling menanyakan keadaan masing-masing, saling bermaaf-maafan.

Namun, ada sedikit yang disayangkan, karena seringkali “polusi hilir” ikut terbawa. Mereka membawa bukti keberhasilan hidup di “hilir” yang penuh persaingan.

Bukti itu tak lain adalah bukti-bukti material “hilir” yang airnya tak lagi jernih dan terpolusi. Spiritualitas terkikis, kebersahajaan terpupus, dan kesetiakawanan terkoyak.

Padahal “mudik” mestinya harus disertai pula dengan makna “mereguk kembali semangat di udik (hulu)”.

Revitalisasi kehidupan menumbuhkan semangat gotong royong, kesetiakawanan, kebersahajaan, dan persaudaraan untuk dibawa lagi ke “hilir” (kota).

Dengan demikian, kehidupan “hilir”-lah yang semestinya diwarnai oleh kehidupan “hulu”, bukan sebaliknya. Itulah makna mudik bagi “si udik.”

Akhirnya, taqabbalallahu minna wa minkum, selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin.

– Sofia Ningsih Rahayu Putri SIP alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tinggal di Gajahan, Solo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: